Artikel Wawancara Penulis Novel
Jakarta
- Aqessa Aninda biasa dipanggil echa lahir di Jakarta, 17 Februari 1992. Saat
ini ia berprofesi sebagai IT programmer Analyst
di sebuah perusahaan asuransi. Menulis merupakan salah satu hobinya yang
dilakukan pada waktu senggang. Biasanya dilakukan saat akhir pekankarena pada
hari-hari biasa ia sibuk bekerja. Sebelum menulis Secangkir Kopi dan Pencakar Langit dan Satu Ruang, cerpennya yang berjudul “Hujan Tiga Detik” pernah
dicetak dalam buku kumpulan cerpen Cinta Dalam Diam yang mengusung tema jatuh
cinta diam-diam. Kemudian cerpen “And
It’s Too Late” juga pernah dicetak dalam buku kumpulan cerpen Move On Come On yang bertema move on. Keduanya dipublikasikan secara self publishing melalui nulisbuku.com.
Beberapa tulisan fiksinya di-publish di akun Wattpad
@fairywoodpaperink. Sedangkan tulisan-tulisan non-fiksi seperti review film dan buku di blog
aqessa.blogspot.com. Selain menulis, Aqessa juga senang membuat playlist lagu untuk setiap tulisannya. Playlist lagu-lagu yang disukai oleh
karakter-karakternya ada di akun Spotify
‘aqessa Aninda’ (bit.ly/spotifyaqessa).
Aqessa sudah tertarik dunia kepenulisan sejak di
bangku Sekolah Dasar. Saat itu ia masih duduk di kelas 6 SD dan mulai memiliki
hobi menulis. Bakat yang dimilikinya dalam menulis tidak diwariskan dari kedua
orangtua, meskipun orangtuanya memiliki hobi membaca. Ibu dari Aqessa adalah
guru Bahasa Indonesia, tetapi beliau tidak mengarahkan anaknya untuk terjun ke
dunia kepenulisan. Baik Ibu maupun Ayah Aqessa sudah menanamkan dalam diri
putrinya untuk rajin membaca. Jadi, tidak heran melalui hobi membaca karya
sastra, mampu menambah perbendaharaan kata. Wawasan yang luas mampu
menghasilkan karya sastra bernilai baik.
Aqessa menjelaskan tidak ada tokoh spesifik yang
benar-benar menginspirasinya dalam menulis novel. Ia hanya melihat dari
orang-orang di sekeliling, baik itu keluarga atau teman-temannya. Saat menulis
cerita tidak ada tempat khusus yang biasa di datangi karena ia lebih menyukai
tempat sepi. Aqessa juga tidak suka jika ada yang memperhatikannya saat sedang
menulis. Hal tersebut dapat mengganggu konsentrasinya. Terkadang ia menulis di
kamar menjelang tidur. Bagi Aqessa tidak ada tempat yang spesifik dalam menulis
cerita. Berbeda dengan beberapa orang yang harus menulis di kafe karena
suasananya nyaman untuk menulis.
Saat ditanya perihal pilihan profesinya sebagai IT programmer Analyst dan hobi menulis
cerita, Aqessa menjelaskan saat ini dunia kepenulisan masih ia jadikan hobi.
Belum ada niatan fokus ke dunia kepenulisan. Dahulu ia akan menulis cerita saat
perjalanan pulang menuju rumah. Selama satu setengah jam jarak dari tempat
kerja di Jakarta menuju Bekasi, ia manfaatkan untuk menulis cerita Secangkir Kopi dan Pencakar Langit melalui
smartphone. Pada saat itu tulisannya
masih berupa part-part pendek sekitar
800-1000 kata dan seiring berjalannya waktu tulisannya makin banyak. Sekarang
ini, ia bisa menerbitkan novel berjudul Secangkir
Kopi dan Pencakar Langit.
Sehubungan dengan nama Secangkir Kopi dan Pencakar Langit, Aqessa menjelaskan bahwa nama
itu diambil dari kegiatan yang biasa dilakukan oleh para pekerja kantoran yang
memiliki rutinitas meminum kopi pada pagi hari. Jadi, secangkir kopi itu
mempresentasikan rutinitas orang-orang yang bekerja di kantor. Saat menentukan
judul, ia juga mengalami kesulitan. Jika hanya mengambil judul “Secangkir
Kopi”, maka sudah banyak orang yang menggunakan judul tersebut. Akhirnya dia
dan editornya mencari judul lain yang memiliki hubungan dengan “Secangkir
Kopi”. Setelah berdiskusi akhirnya terpilihlah nama “Pencakar Langit”.
“Secangkir Kopi” dan “Pencakar Langit” memiliki keterkaitan. Gedung pencakar
langit merupakan tempat orang-orang bekerja dan biasanya orang-orang kantoran
akan melakukan kegiatan minum kopi. Jadi Secangkir
Kopi dan Pencakar Langit merupakan novel yang mengisahkan kehidupan
orang-orang di dunia kerja.
Cerita dalam Secangkir
Kopi dan Pencakar Langit dibuat dalam versi Radio-Play. Elexmedia, penerbit novel-novel karya Aqessa, dan
Motion yang merupakan sebuah radio, sama-sama bernaung dalam satu grup Kompas
Gramedia. Saat itu, Motion bekerja sama dengan Elexmedia untuk mencari cerita
dari novel yang kemudian diubah dalam bentuk Radio-Play. Menurut Aqessa, alasan Motion mencari cerita yang sudah
ada karena adanya pertimbangan agar pihak Motion tidak membuat skrip skenario
kembali. Akhirnya pihak Motion mencari cerita yang sudah ada sekaligus sebagai
ajang promosi buku. Pihak Elexmedia memberikan buku-buku best seller dan akhirnya buku-buku tersebut dibaca oleh pihak
Motion dan terpilihlah Secangkir Kopi dan
Pencakar Langit. Setelah mengalami beberapa proses antara penulis dan pihak
Motion maka diputuskan Secangkir Kopi dan
Pencakar Langit dalam bentuk Radio-Play.
Aqessa yang pada mulanya seorang penulis Wattpad berhasil menerbitkan
tulisan-tulisannya dalam bentuk cetak. Awalnya ia mengirimkan tulisannya ke
editor atas rekomendasi penulis-penulis Wattpad
yang sudah diterbitkan terlebih dahulu di penerbit Elexmedia. Berkat bantuan
teman-teman yang mengenalkan ke editor Elexmedia, tulisannya pun mampu memikat
editor dan langsung diterima. Menurutnya, saat tulisannya ditransformasikan
dari Wattpad menjadi bentuk cetak
tidak ada kesulitan. Hanya saja sedikit rumit karena awalnya ia menulis di Wattpad tujuannya untuk ajang
seru-seruan dan tidak memperhatikan kaidah-kaidah penulisan yang baik dan
benar. Jadi, saat tulisannya diubah dari Wattpad
ke dalam bentuk cetak, terjadi beberapa revisi pada bagian plothole agar terlihat rapi saat dicetak nanti.
Proses editing Secangkir
Kopi dan Pencakar Langit tidak memakan waktu lama dan bisa dikatakan cepat
prosesnya. Kurang lebih waktu pengeditan novel ini sekitar satu bulan dan itu
sudah termasuk cepat. Berbeda dengan novel yang kedua, Satu Ruang, yang memakan waktu lama. Untuk proses menulis ceritanya
saja memakan waktu sekitar 6 bulan dan proses berdiskusi dengan editor juga
memakan waktu sekitar 6 bulan. Jadi proses editing Satu Ruang hampir satu tahun baru terbit.
Satu Ruang adalah
cerita kelanjutan dari Secangkir Kopi dan
Pencakar Langit.isi cerita dari Satu
Ruang bersumber dari Jejak yang
ada di Wattpad. Namun atas beberapa
pertimbangan antara Aqessa dan editor, akhirnya Jejak terbagi menjadi dua.Satu
Ruang yang bercerita tentang berbagi ruang dan Dua Jejak tentang memilih dan menghapus jejak. Jadi sebenarnya
fokus dalam cerita sedikit terpecah. Dua
Jejak saat ini belum diterbitkan, menurut informasi dari Aqessa pada awal 2018
baru akan diterbitkan. Dua Jejak
merupakan kelanjutan dari Satu Ruang.
Jadi, antara Secangkir Kopi dan Pencakar
Langit, Satu Ruang dan Dua Jejak memiliki
jalinan cerita yang sama atau bisa dikatakan satu sequel.
Secara tersirat Aqessa ingin memberikan pesan kepada
pembaca. Dalam Secangkir Kopi dan
Pencakar Langit secara tersirat sebenarnya setiap orang berjuang terhadap
masalah masing-masing. Begitu juga dengan Satu
Ruang yang hampir sama juga. Tetapi Secangkir
Kopi dan Pencakar Langit lebih membahas anggapan orang dengan sebelah mata.
Jadi, dalam menulis cerita Aqessa tidak hanya mengisahkan cinta antara
laki-laki dan perempuan saja. Tetapi ada hal-hal yang dapat dijadikan
pelajaran. Pembaca akan menjadi lebih menghargai keluarga, termotivasi oleh kehidupan
para tokohnya, dan lebih menghargai arti kehidupan dan meningkatkan rasa empati
terhadap sesama.

Komentar
Posting Komentar